Kamis, 03 Maret 2011

Ketabahan dalam Hidup

Gemericik hujan membangunkanku dari lamunan itu. Aku pun semakin bingung, apa yang telah terjadi dalam kehidupanku saat ini. Kebahagiaan itu kini sudah tak kudapat lagi. Dalam lamunan itu pikiranku tertuju pada sesosok ayah yang dahulu selalu bisa membuatku tersenyum bahagia. Sungguh aku merindukannya saat ini.

Peristiwa itu terjadi ketika ayah sedang dinas kesebuah kota di Bandung. Kami tak menyangka bahwa ini yang akan terjadi. Ayahku pergi bersama rekan kerjanya. Tanpa berfikir panjang, ibu pun mengijinkan ayah untuk meninggalkan Kota Depok demi menyelesaikan tugasnya. “Hati-hati, Yah. Kami selalu mendoakanmu.” Ingatku dengan pesan yang disampaikan ibu kepada ayah.

Lamunanku berakhir ketika mendegar isak tangis dari luar kamarku. Kulihat dan kucari dimana asal suara itu. Suara itu terdengar jelas ketika aku berada di depan kamar ibu.

“Bu, kenapa?” tanyaku seraya memeluk ibu. Aku tak kuasa melihat ibu ketika dalam keadaan seperti itu. Aku tak kuasa jika ibu sedang menangis. Sesungguhnya aku mengerti apa yang sedang dipikirkan ibu, sejak tadi akupun memikirkan apa yang dipikirkan ibu.

“Ibu tidak mengerti apa yang dilakukan ayahmu dengan wanita itu.” Ucap ibu. Benar dugaanku, ibu sedang memikirkan apa yang sejak tadi kulamunkan.

“Sabar, Bu. Semua ini hanya cobaan dalam keluarga kita. Ibu tidak usah memikirkan hal itu.” Nasihatku kepada ibu.

“Ayahmu kini sudah lepas tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Ibu hanya mendapatkan jatah uang yang seharusnya tidak dalam jumlah yang sangat sedikit seperti yang diberikan ayah saat ini. Ibu kasihan kepadamu, Nak. Kamu bersusah payah membagi waktumu untuk bekerja, seharusnya kamu hanya fokus pada kuliahmu saja.” Tangisan Ibu semakin terdengar karena kata-kata yang diucapkannya. Akupun berfikir, mengapa semua ini terjadi pada keluarga ini. Aku benar-benar merindukan sosok ayah yang dahulu benar-benar memperhatikan keluarga ini.

“Bu, semua akan aku lakukan demi kebahagiaan Ibu. Semua ini sudah menjadi kewajibanku sebagai anak pertama. Aku harus mencari uang untuk tambahan biaya sekolah adik-adik dan biaya makan kita.” Tak kuasa aku mengatakan semua ini pada ibu. Pelukanku kepada ibu semakin erat, hanya ini yang membuatku merasa sedikit tenang.

“Maafkan ibu, Nak. Uang beasiswamu kemarin diambil ayahmu. Ibu sudah mencegahnya, namun uang itu diambil olehnya. Maafkan ibu, Nak.” Jantungku berdetak kencang mendengar perkataan ibu. Aku semakin tak mengerti mengapa semua ini dilakukan ayah kepada kami. Aku benar-benar tidak mengerti.

“Tidak apa-apa, Bu. Aku mengerti. Sudah jangan dipikirkan lagi masalah itu.” Akupun tidak hentinya menenangkan hati ibu. Meskipun banyak sekali masalah yang ada diotakku kini.

Aku benar-benar tidak habis fikir, mengapa ayah setega itu melakukannya pada kami. Uang ayah yang dahulu cukup banyak, kini sudah tidak tahu lagi berapa yang ada ditabungannya. Semua itu karena wanita yang tidak tahu diri mendekati ayah dan menghabiskan semua uang yang dimiliki ayah. Rasanya aku ingin membuangnya jauh dari bumi ini. Hingga tidak ada wanita itu yang selalu mengganggu kebahagiaan keluarga ini.

“Yah, belikan buku, buku adik sudah habis semua.” Suara adikku membangunkanku dari lamunan. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku serinh melamun. Mungkin karena hal ini.

“Mintalah pada ibu.” Jawab ayah dengan singkatnya.

“Ibu sudah tidak punya uang, Yah.”jawab adik dengan lugu.

“Minta pada kakakmu. Sudah jangan ganggu ayah.” Cetus ayah. Aku tak kuasa melihat adik yang dibentak ayah, dan dengan enteng ayah menyuruhnya untuh meminta pada ibu atau aku. Dengan keberanian, akupun menghampiri ayah.

“Apa yang sudah ayah lakukan ini keterlaluan. Coba ayah fikir, ibu sangat merindukan ayah yang sangat memperhatikan keluarga ini, ayah yang selalu membuat keluarga ini merasa nyaman. Tetapi semua itu kini sudah tiada. Ayah yang baik kini berubah menjadi murka, tidak peduli pada keadaan ekonomi keluarga. Sungguh aku merindukan sesosok ayah yang dahulu.” Tegasku kepada ayah. Kali ini aku sudah tidak dapat menahan amarahku. Mendengar perkataanku, ayah hanya diam saja, tidak mempedulikan kata-kataku. Akupun pergi meninggalkan ayah.

Akupun kembali pada lamunanku, hanya ini yang dapat kulakukan ketika aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menyelesaikan masalah ini. Kamar lah tempat yang selalu setia menemaniku dalam pikiran ini. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua ini terjadi dengan sendirinya. Rasanya aku ingin pergi meninggalkan suasana ini. Tetapi aku sadar, ibu dan adikku sangat membutuhkanku. Hanya mereka lah yang membuatku bertahan dirumah ini.

Lamunanku berujung dengan terlelapnya aku dalam alam tidur. Hingga kicauan burung membangunkan aku pada cerahnya pagi ini. Aku berharap, hari ini aku akan menemukan keajaiban dalam hidup yang akan merubah keadaan keluargaku menjadi seperti dahulu.

Akupun bergegas untuk bersiap-siap. Kegiatanku terhenti ketika adikku memanggil. “Kak, dipanggil ayah. Ayah ingin berbicara dengan kakak.”

Sejenak aku berfikir, ayah memanggilku, ingin berbicara padaku. Apa yang akan ayah katakan? Akupun bergegas menuju tempat dimana ayah menungguku. Ternyata tidak hanya ayah, ibupun berada disana. Aku semakin bingung, apa yang akan dikatakan ayah. Semoga ini menjadi awal yang baik.

“Nak, maafkan ayah. Ayah sudah tidak memperhatikan keluarga ini. Ayah sadar, tidak seharusnya semua ini ayah lakukan pada kalian. Ayah khilaf, wanita itu sudah jahat pada keluarga kita.” Ucap ayah. Hati ini lega rasanya. Inilah saat yang aku tunggu, perubahan yang seharusnya terjadi sejak dahulu. Akupun menitihkan air mata. Tidak kuasa menahan bahagia atas perubahan ayah.

“Aku mengerti. Memang tak seharusnya ayah melakukan ini pada kami, terutama ibu. Ibu yang selalu memikirkan semua ini, aku tidak sanggup jika ibu sampai menangis memikirkan ayah.” Ucapku menyadarkan ayah.

“Bu, maafkan ayah. Ayah sudah melakukan hal yang tidak sehausnya ayah lakukan pada ibi. Hanya ibu yang ada dihati ayah. Ibu yang hanya ada dipikiran ayah.” Jujur ayah pada ibu.

“Meskipun ayah sudah melakukan hal ini. Tidak mengurangi kepercayaan ibu untuk ayah. Akan ibu lakukan apapun demi kebahagiaan keluarga ini.” Ucap ibu. Sungguh aku bangga dengan kesabaran dan kekuatan ibu dalam menyikapi masalah ini. Seharusnya ayah malu dengan apa yang dilakukan ibu. Tetapi sudahlah, semua itu sudah berlalu.

“Mulai saat ini, kita buka lembaran baru. Kita susun kembali kebahagiaan keluarga yang sempat tertunda. Maafkan ayah sudah membuat kalian menderita. Ayah janji, akan berusaha mencari uang demi kebahagiaan kalian. Maafkan ayah sudah membuat kalian merasakan kehidupan yang sederhana ini.” Lanjut ayah. Aku yakin, kemiskinan yang dialami keluargaku ini akan cepat berakhir. Semua akan kembali seperti semula.