Kamis, 03 Maret 2011

Ketabahan dalam Hidup

Gemericik hujan membangunkanku dari lamunan itu. Aku pun semakin bingung, apa yang telah terjadi dalam kehidupanku saat ini. Kebahagiaan itu kini sudah tak kudapat lagi. Dalam lamunan itu pikiranku tertuju pada sesosok ayah yang dahulu selalu bisa membuatku tersenyum bahagia. Sungguh aku merindukannya saat ini.

Peristiwa itu terjadi ketika ayah sedang dinas kesebuah kota di Bandung. Kami tak menyangka bahwa ini yang akan terjadi. Ayahku pergi bersama rekan kerjanya. Tanpa berfikir panjang, ibu pun mengijinkan ayah untuk meninggalkan Kota Depok demi menyelesaikan tugasnya. “Hati-hati, Yah. Kami selalu mendoakanmu.” Ingatku dengan pesan yang disampaikan ibu kepada ayah.

Lamunanku berakhir ketika mendegar isak tangis dari luar kamarku. Kulihat dan kucari dimana asal suara itu. Suara itu terdengar jelas ketika aku berada di depan kamar ibu.

“Bu, kenapa?” tanyaku seraya memeluk ibu. Aku tak kuasa melihat ibu ketika dalam keadaan seperti itu. Aku tak kuasa jika ibu sedang menangis. Sesungguhnya aku mengerti apa yang sedang dipikirkan ibu, sejak tadi akupun memikirkan apa yang dipikirkan ibu.

“Ibu tidak mengerti apa yang dilakukan ayahmu dengan wanita itu.” Ucap ibu. Benar dugaanku, ibu sedang memikirkan apa yang sejak tadi kulamunkan.

“Sabar, Bu. Semua ini hanya cobaan dalam keluarga kita. Ibu tidak usah memikirkan hal itu.” Nasihatku kepada ibu.

“Ayahmu kini sudah lepas tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Ibu hanya mendapatkan jatah uang yang seharusnya tidak dalam jumlah yang sangat sedikit seperti yang diberikan ayah saat ini. Ibu kasihan kepadamu, Nak. Kamu bersusah payah membagi waktumu untuk bekerja, seharusnya kamu hanya fokus pada kuliahmu saja.” Tangisan Ibu semakin terdengar karena kata-kata yang diucapkannya. Akupun berfikir, mengapa semua ini terjadi pada keluarga ini. Aku benar-benar merindukan sosok ayah yang dahulu benar-benar memperhatikan keluarga ini.

“Bu, semua akan aku lakukan demi kebahagiaan Ibu. Semua ini sudah menjadi kewajibanku sebagai anak pertama. Aku harus mencari uang untuk tambahan biaya sekolah adik-adik dan biaya makan kita.” Tak kuasa aku mengatakan semua ini pada ibu. Pelukanku kepada ibu semakin erat, hanya ini yang membuatku merasa sedikit tenang.

“Maafkan ibu, Nak. Uang beasiswamu kemarin diambil ayahmu. Ibu sudah mencegahnya, namun uang itu diambil olehnya. Maafkan ibu, Nak.” Jantungku berdetak kencang mendengar perkataan ibu. Aku semakin tak mengerti mengapa semua ini dilakukan ayah kepada kami. Aku benar-benar tidak mengerti.

“Tidak apa-apa, Bu. Aku mengerti. Sudah jangan dipikirkan lagi masalah itu.” Akupun tidak hentinya menenangkan hati ibu. Meskipun banyak sekali masalah yang ada diotakku kini.

Aku benar-benar tidak habis fikir, mengapa ayah setega itu melakukannya pada kami. Uang ayah yang dahulu cukup banyak, kini sudah tidak tahu lagi berapa yang ada ditabungannya. Semua itu karena wanita yang tidak tahu diri mendekati ayah dan menghabiskan semua uang yang dimiliki ayah. Rasanya aku ingin membuangnya jauh dari bumi ini. Hingga tidak ada wanita itu yang selalu mengganggu kebahagiaan keluarga ini.

“Yah, belikan buku, buku adik sudah habis semua.” Suara adikku membangunkanku dari lamunan. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku serinh melamun. Mungkin karena hal ini.

“Mintalah pada ibu.” Jawab ayah dengan singkatnya.

“Ibu sudah tidak punya uang, Yah.”jawab adik dengan lugu.

“Minta pada kakakmu. Sudah jangan ganggu ayah.” Cetus ayah. Aku tak kuasa melihat adik yang dibentak ayah, dan dengan enteng ayah menyuruhnya untuh meminta pada ibu atau aku. Dengan keberanian, akupun menghampiri ayah.

“Apa yang sudah ayah lakukan ini keterlaluan. Coba ayah fikir, ibu sangat merindukan ayah yang sangat memperhatikan keluarga ini, ayah yang selalu membuat keluarga ini merasa nyaman. Tetapi semua itu kini sudah tiada. Ayah yang baik kini berubah menjadi murka, tidak peduli pada keadaan ekonomi keluarga. Sungguh aku merindukan sesosok ayah yang dahulu.” Tegasku kepada ayah. Kali ini aku sudah tidak dapat menahan amarahku. Mendengar perkataanku, ayah hanya diam saja, tidak mempedulikan kata-kataku. Akupun pergi meninggalkan ayah.

Akupun kembali pada lamunanku, hanya ini yang dapat kulakukan ketika aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menyelesaikan masalah ini. Kamar lah tempat yang selalu setia menemaniku dalam pikiran ini. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua ini terjadi dengan sendirinya. Rasanya aku ingin pergi meninggalkan suasana ini. Tetapi aku sadar, ibu dan adikku sangat membutuhkanku. Hanya mereka lah yang membuatku bertahan dirumah ini.

Lamunanku berujung dengan terlelapnya aku dalam alam tidur. Hingga kicauan burung membangunkan aku pada cerahnya pagi ini. Aku berharap, hari ini aku akan menemukan keajaiban dalam hidup yang akan merubah keadaan keluargaku menjadi seperti dahulu.

Akupun bergegas untuk bersiap-siap. Kegiatanku terhenti ketika adikku memanggil. “Kak, dipanggil ayah. Ayah ingin berbicara dengan kakak.”

Sejenak aku berfikir, ayah memanggilku, ingin berbicara padaku. Apa yang akan ayah katakan? Akupun bergegas menuju tempat dimana ayah menungguku. Ternyata tidak hanya ayah, ibupun berada disana. Aku semakin bingung, apa yang akan dikatakan ayah. Semoga ini menjadi awal yang baik.

“Nak, maafkan ayah. Ayah sudah tidak memperhatikan keluarga ini. Ayah sadar, tidak seharusnya semua ini ayah lakukan pada kalian. Ayah khilaf, wanita itu sudah jahat pada keluarga kita.” Ucap ayah. Hati ini lega rasanya. Inilah saat yang aku tunggu, perubahan yang seharusnya terjadi sejak dahulu. Akupun menitihkan air mata. Tidak kuasa menahan bahagia atas perubahan ayah.

“Aku mengerti. Memang tak seharusnya ayah melakukan ini pada kami, terutama ibu. Ibu yang selalu memikirkan semua ini, aku tidak sanggup jika ibu sampai menangis memikirkan ayah.” Ucapku menyadarkan ayah.

“Bu, maafkan ayah. Ayah sudah melakukan hal yang tidak sehausnya ayah lakukan pada ibi. Hanya ibu yang ada dihati ayah. Ibu yang hanya ada dipikiran ayah.” Jujur ayah pada ibu.

“Meskipun ayah sudah melakukan hal ini. Tidak mengurangi kepercayaan ibu untuk ayah. Akan ibu lakukan apapun demi kebahagiaan keluarga ini.” Ucap ibu. Sungguh aku bangga dengan kesabaran dan kekuatan ibu dalam menyikapi masalah ini. Seharusnya ayah malu dengan apa yang dilakukan ibu. Tetapi sudahlah, semua itu sudah berlalu.

“Mulai saat ini, kita buka lembaran baru. Kita susun kembali kebahagiaan keluarga yang sempat tertunda. Maafkan ayah sudah membuat kalian menderita. Ayah janji, akan berusaha mencari uang demi kebahagiaan kalian. Maafkan ayah sudah membuat kalian merasakan kehidupan yang sederhana ini.” Lanjut ayah. Aku yakin, kemiskinan yang dialami keluargaku ini akan cepat berakhir. Semua akan kembali seperti semula.

Senin, 14 Februari 2011

Salahkah Aku ??!!???

Sejenak aku menghentikan semua hal yang sebelumnya telah aku lakukan. Menyandarkan tubuhku pada lembutnya sofa yang memenuhi ruang di kamarku ini. Sesekali aku menatap dinding kamar yang terlihat begitu bersih. Aku terdiam, memikirkan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak aku fikirkan. Dalam diam itu, aku teringat sosok yang membuatku semakin diam dan tak mempedulikan suara-suara yang timbul dari luar kamarku.

Aku berfikir, mengapa sosok itu selalu ada dalam fikiranku, selalu menghantui setiap aku melakukan kegiatanku. Memang aku tidak merasa terganggu, namun apa tidak salah memikirkan hal itu ??? Tidak ada yang bisa menjawab, sesekali diriku ingin menjawabnya.

Kali ini bukan pertama kalinya aku terbayang sosok itu. Entah mengapa tidak bosan-bosannya aku mengingatnya dan membayangkannya. Aku ingin ia tahu, aku selalu teringat dirinya dan selalu merindukannya ..
Tapi, salahkah aku sudah merindukannya ???


Rabu, 09 Februari 2011

Ketidak Pastian

Ketidak Pastian, sesuatu yang sangat tidak diinginkan oleh setiap orang. Mungkin bagi orang-orang yang selalu bersemangat, hal itu dapat dilaluinya dengan mudah dan mereka akan selalu berkerja keras untuk menghilangkan ketidak pastian itu. Lain halnya dengan orang-orang yang lemah dan tidak sanggup menerima keadaan yang sedang mereka alami. Mereka cenderung putus asa dan menerima keadaan dengan apa adanya.

Sesuai atau tidaknya keadaan yang kita alami saat ini dengan apa yang kita inginkan, seharusnya diterima dan dijalankan dengan baik. Banyak orang yang bahagia dengan ketidak pastian itu. Mereka selalu menerima dan menjalankan semua hal ada di depan pandangannya saat itu. Kita, sebagai orang yang lemah maupun bersemangat, seharusnya tetap menjadikan prinsip hidup dan membuang ketidak pastian yang hanya bisa meracuni otak dan membuat kita semakin lemah, lemah, dan lemah dalam lingkungan yang kita lalui.

Minggu, 05 Desember 2010

Wawancara

Tugas Manajeman Editorial semester 3 yaitu merancang sebuah buku, saya bersama kelompok (aldi, vina, allin, yadi, lala, bool) mempunyai ide untuk membuat buku dengan judul KUDA-KUDA (kuliah dagang-kuliah dagang) dan saya di tuntut untuk mewawancarai beberapa rekan mahasiswa saya yang kuliah sambil menjalani usaha.
salah satunya adalah Iyan, mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi (STIMIK Bina Sarana Global) memiliki Usaha Warung Internet (warnet). Dia adalah salah satu teman saya dalam sebuah komunitas yang saya ikutu, yaitu SHEILAGANK JABODETABEK.

Berikut adalah gambaran wawancara saya dengan mahasiswa tersebut :


Halaman Pertama

Halaman Kedua

Halaman Ketiga

Halaman Keempat



Profil Singkat Iyan :
BIODATA
Nama Lengkap : Iyan F
irmansyah

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Tempat & Tangal Lahir : Kuningan, 11 September 1991

Agama : Islam

Alamat : Dasana Indah Blodk RD 5 No 21, Kelapa Dua,Tangerang



TERIMA KASIH KEPADA SAUDARA IYAN YANG TELAH BERSEDIA UNTUK DIWAWANCARAI .. :)

Pembuatan Otobiografi

Perjalanan Hidup

Aku dilahirkan di Jawa Tengah pada 3 Juni 1991. Aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Dengan modal keberanian, ayahku memberanikan diri merantau ke Jakarta. Awalnya hanya menumpang dengan orang lain. Namun, saat ini ayahku sudah bisa membiayai kehidupan keluarga dan menyekolahkan aku beserta adikku.

Awalnya tempat tinggal keluargaku tidak menetap. Ayah dan Ibu berasal dari Jawa Tengah. Mereka merantau dengan berbekal keberanian. Pertama kali tiba di Jakarta, keluargaku tinggal di sebuah kontrakan yang berada di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang hanya memiliki satu ruangan. Saat itu, ayahku masih bekerja bersama orang lain, belum mempunyai usaha sendiri. Setelah mempunyai uang cukup, ayahku memberanikan diri membuka usaha, bengkel las, dan kami pun pindah kontrakan. Kontrakan berikut memang lebih besar, terdapat tiga ruangan. Kontrakan tersebut berada di Ciganjur, Jakarta Selatan. Usaha ayahku cukup berkembang, dapat diterima masyarakat. Banyak orang yang memesan berbagai kebutuhan yang berhubungan dengan pengelasan kepada ayahku. Setelah benar-benar mempunyai uang yang cukup, ayahku membangun rumah di daerah Depok, Jawa barat. Aku tinggal di Ciganjur sejak TK hingga SD kelas 2. Setelah rumah yang dibangun ayahku sudah dapat ditempati, kami sekeluarga pindah, hingga saat ini aku dan keluargaku tinggal di rumah itu, di Depok. Berkat kerja keras dan kegigihan ayahku, ayahku dapat mengelola usahanya hingga saat ini. Berasal dari menumpang dengan orang lain hingga dapat memiliki usaha sendiri. Ayahku bisa dikatakan sudah sukses. Namun, tidak ingin mengakui kesuksesannya, karena merasa masih banyak orang lain yang melebihi usaha dirinya.

Aku sangat bahagia memiliki orangtua yang sangat perhatian kepada diriku. Terkadang, jika aku tidak pulang tepat waktu, ayah atau ibuku menelepon dan sedikit memarahi aku. Namun, aku tahu, orangtuaku bersifat seperti itu karena mereka perhatian dan benar-benar menyayangiku. Dari situlah aku belajar, betapa pentingnya dan betapa berharganya sebuah keluarga. Aku tidak akan menyia-nyiakan apa yang diberikan ayah dan ibu. Ayah cenderung royal kepada diriku, apa yang aku butuhkan selalu dituruti selagi dapat menguntungkan. Aku senang membaca, jika sudah berada di toko buku, ayah membebaskan aku membeli buku apa saja yang aku perlukan dan aku inginkan.

Aku sangat senang menulis pada sebuah buku catatan. Namun, tidak ada satu pun tulisanku yang sempurna. Aku bukanlah penulis andal. Meski aku yakin, dapat menulis dengan baik dan tulisanku dapat dibaca semua orang pada sebuah surat kabar atau majalah, karena itu bagian dari keinginanku yang belum dapat terwujudkan. Mengenai buku catatan, aku lebih sering menulis mengenai kejadian-kejadian yang aku alami, entah dalam keluarga, perkuliahan, teman, bahkan sampai urusan percintaan. Adakalanya, aku senang melimpahkan semua yang aku rasakan pada buku tersebut. Tetapi terkadang aku menceritakan kepada teman atau sahabatku mengenai apa yang aku rasakan. Menurut teman dan sahabatku, aku cukup baik untuk menjadi seorang pendengar. Sudah cukup banyak teman atau sahabatku yang menceritakan masalah dirinya. Aku selalu memberikan jalan keluar. Aku juga memberikan nasihat kepada teman atau sahabatku itu.

Aku termasuk orang yang tidak memiliki percaya diri yang cukup tinggi dan sedikit pemalu. Susah bagiku bersosialisasi dengan orang lain. Namun, semua itu perlahan-lahan aku hilangkan dalam diriku. Jika semua kepribadianku tetap aku pertahankan, mungkin aku menjadi seseorang yang benar-benar dikucilkan dalam lingkungan yang aku jumpai.

Dalam berkomunikasi dengan orang lain, aku cukup bisa memahami keadaan orang lain. Jika tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan, aku cenderung emosi. Aku memiliki sifat emosional. Mungkin untuk sebagian orang yang belum mengenalku, mereka kaget dan menyangka aku pemarah. Benar, aku mempunyai sifat emosional dan pemarah. Sampai saat ini, orang yang mengenalku dapat memahami dan mengerti keadaanku. Meskipun seperti itu, aku selalu mencoba membuang semua sifat emosiku sedikit demi sedikit.

Aku sedikit boros dalam hal keuangan. Cenderung menghabiskan uangku untuk membeli atau menggunakan dalam hal yang baik. Jika memiliki sedikit uang, aku langsung membeli apa yang aku butuhkan. Namun, aku belajar sedikit demi sedikit untuk menabung. Ayanhku selalu menerapkan untuk dapat menyisihkan uang dan belajar berhemat, supaya nanti jika memiliki keluarga sendiri dapat mengatur pengeluaran dengan baik. Tidak dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Aku memiliki prinsip dalam hidupku “kegagalan adalah kunci dari kesuksesan”. Aku selalu berpedoman pada prinsipku itu. Meskipun bersusah-susah dan sudah berusaha, tetap gagal, aku selalu berfikir mungkin dengan kegagalan ini aku dapat yang lebih baik yang menjadi sukses berkat kegagalanku itu.

Aku labil dalam pergaulan dan menentukan sebuah keputusan. Namun, semua itu aku jadikan sebuah pengalaman dalam kehidupanku, sehingga aku dapat menjalankan semua kehidupanku berdasarkan pengalaman.

Aku memiliki pengalaman terpenting dalam hidupku semasa masih kecil. Aku benar-benar merasakan susahnya ayahku mencari nafkah untuk keluarga. Aku ingat, dahulu kami pernah menempati sebuah kontrakan yang hanya memiliki satu petak ruangan. Namun, kini semua itu hanya kenangan. Ayahku dapat membangun rumah dengan jerih payahnya selama ini. Meskipun dahulu aku masih kecil, aku sudah dapat merasakan susahnya ayah mencari uang. Sekarang, kami sudah dapat menikmati semua.

Saat ini, aku melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi negeri, yaitu Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Awalnya aku tidak mengetahui keberadaan kampus tersebut. Dahulu ketika aku sedang mencari tahu mengenai perguruan tinggi, guru bimbingan konseling (BK) sewaktu SMA memberikan informasi kepadaku dan menyuruhku mendaftar di PNJ. Setelah aku melihat profil dan jurusan yang ada di perguruan tinggi tersebut, aku cukup tertarik dan coba mendaftar pada jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Aku mendaftar pada program studi Penerbitan. Sebenarnya pada tabel formulir, nama program studi itu bukan Penerbitan, tetapi Jurnalistik. Maka aku memilih jurusan itu. Aku mendaftar melalui Jalur Seleksi Prestasi (JSP). Setelah tanggal pengumuman tiba, aku segera mendatangi guru BK dan menanyakan apakah aku diterima di PNJ atau tidak. Ternyata aku diterima, aku merasa bangga, ayahku ingin aku masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur PMDK atau JSP.

Selama mengikuti kegiatan perkuliahan di Politeknik Negeri jakarta, ada rasa bangga dan kecewa. Aku bangga dapat kuliah di PNJ, karena banyak sekali yang mendaftar yang tidak diterima. Selain itu, aku dapat menambah banyak wawasan baru, ilmu dan pengetahuan baru. Banyak sesuatu yang aku dapat. Namun, ada kekecewaan tersendiri, dosen-dosen terkadang datang sesuka hati, tidak memikirkan kami yang ingin belajar. Selain itu, ada beberapa dosen yang memberikan tugas yang cukup banyak dan mengharuskan dikumpulkan sesuai waktu yang ditentukan. Namun, dari perlakuan dosen itu, aku cukup memahami betapa pentingnya sebuah tugas yang harus benar-benar dikerjakan dan harus benar-benar tepat waktu. Selain itu, ada beberapa kendala yang aku temui dalam sarana yang ada di gedung Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Air dalam kamar mandi sering mati, aku jadi kesulitan jika ingin memakai air tersebut, terutama untuk berwudhu. Aku sudah menegur kepada OB, dan jawabannya selalu “sedang ada gangguan”. Selain itu, AC ruang pembelajaran juga mengalami gangguan. AC terkadang mati dan proses belajar pun terganggu. Beberapa ruang pembelajaran pada jendela tidak semuanya tertutup gorden. Jika matahari muncul, proses belajar pun terganggu, cahaya matahari masuk dan menyulitkan diriku memperhatikan dosen sedang mengajar dan menulis di papan tulis.

Sebenarnya, yang aku lakukan ini bukan bagian dari cita-citaku. Aku selalu bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Guru sangat berjasa bagi siapa pun, memberikan ilmu yang telah dimiliki. Namun, impian itu kini mungkin sudah sirna, aku melanjutkan kuliah di jurusan Penerbitan. Aku hanya ingin mewujudkan keinginan ayahku untuk masuk di perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi tanpa tes. Maka aku mengikuti JSP yang diadakan PNJ. Ternyata aku diterima. Namun, pada dasarnya aku suka menulis, aku cukup senang mengikuti perkuliahannya.

Dahulu, ketika SMA, ada tes penjurusan masuk jurusan IPA. Aku sangat bersemangat mengikuti tes itu dan sangat berharap dapat diterima. Aku ingin memperdalam pengetahuan dan pemahamanku mengenai mata pelajaran matematika. Aku sangat ingin sekali menjadi guru matematika. Akhirnya aku pun diterima pada jurusan itu.

Awalnya aku merasa bingung, apa yang dipelajari dan apa saja yang akan aku dapatkan pada jurusan ini, karena yang ada pada otakku, yaitu IPA. Berhitung adalah pelajaran yang paling aku sukai. Semenjak aku masuk di jurusan ini, aku merasa sedikit canggung. Biasanya dihadapkan dengan berbagai rumus, sekarang tidak. Sampai saat ini, aku jalani saja apa yang sudah kudapatkan.

Aku kini dapat sedikit menyalurkan keinginanku, membagi ilmu yang kudapatkan kepada orang lain. Aku mengikuti sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di PNJ. Aku mengikuti UKM Ansos. UKM tersebut bergerak di bidang sosial, yaitu mengajar adik-adik yang masih bersekolah dasar. Aku sangat senang bisa berbagi ilmu kepada adik-adik. Walaupun aku tidak bisa melanjutkan kuliah jurusan pendidikan, setidaknya di PNJ aku bisa mengembangkan bakatku. Selain itu, aku juga dapat membagi ilmu yang aku dapatkan sejak SD kepada adik-adik.

Kini selain sibuk dengan rutinitas kuliah, aku membantu teman-teman mengurus UKM tersebut. Meskipun kami terdiri dari beberapa orang saja, aku tetap senang dan tetap membantu jika kami mengalami kesusahan. Saat ini aku dan teman-temanku sedang sibuk mengurusi penerimaan pengajar baru. Banyak mahasiswa dan mahasiswi baru yang katanya ingin bergabung dengan UKM kami.

Aku sangat berharap, dengan semua keputusan yang aku jalani kini, dapat membawaku menjadi seseorang yang berguna bagi lingkungan sekitarku. Semoga keinginanku membagi ilmu kepada oranglain bisa terwujudkan. Aku hanya ingin membahagiakan kedua orangtuaku, hanya itu yang dapat aku lakukan. Ayahku selalu berpesan kepada diriku “belajarlah setinggi mungkin, kamu harus bisa lebih dan lebih dari apa yang ayah dapat saat ini.” Jika mendengar ucapan ayah yang satu itu, aku merasa, aku harus benar-benar belajar dan berusaha dengan benar. Ayah sudah besusah-susah mencari uang untuk biaya kuliahku dan hanya membahagiakan dirinya lah yang dapat aku berikan.

Biodata

Nama : Indri Purnama Sari

Nama Panggilan : Indri, Indil

TTL : Solo, 3 Juni 1991

Alamat : Link. Cipayung Rt 01/01 No.79, Kelurahan.Abadijaya Kecamatan.Sukmajaya, Depok 16417

Imel : indilmaniez@yahoo.com, indilmaniez@yahoo.com, indilajah.blogspot.com

Telp : 085697432505, 021-77832061

Motto : Kegagalan adalah kunci dari keberhasilan.

Cita-cita : Guru, Editor, Reporter